Beberapa hari yang lalu di Detikinet ada berita mengenai pelajar dilarang memakai jam tangan saat ujian di negara Thailand. Dengan teknologi yang ada saat ini, jam tangan tidak hanya sebagai alat penunjuk waktu saja tetapi juga memiliki fungsi PDA ataupun handphone. Teknologi ini ternyata dimanfaatkan untuk menyontek atau berbuat curang pada saat ujian. Akhirnya pemerintah setempat memutuskan untuk melarang para pelajar ini menggunakan jam tangan saat ujian.

Hehehe… Saya jadi teringat waktu kuliah dulu, saat pertama kali punya PDA (TRG Pro, pernah dengar?). Pada saat itu PDA belum populer, saat ujian PDA saya itu disangka kalkulator oleh pengawas. Sempat-sempatnya diperiksa oleh pengawas, layar PDA saya yang masih hitam putih (grey scale, belum ada yang berwarna) itu dengan tampilan aplikasi kalkulator Palm membuat pengawas tidak curiga. Padahal saya sudah buat rumus-rumus setan di spreadsheet… Hehehehe.

Seperti beberapa kawan saya yang mengetahui ‘kerjaan’ saya waktu itu, pasti teman-teman yang membaca tulisan ini mempunyai pikiran kalau saya itu curang?

Hehehe.. Terserah deh. Emang iya kali yah? :D .

Btw, saya kuliah di Jurusan Teknik Arsitektur, waktu itu ujian mata kuliah Manajemen Pembangunan, dimana saya harus menghitung manual masalah pengadaan dana atau peminjaman modal untuk membangun sebuah proyek. Jadi harus menghitung urusan bunga bank dan lain lain.

Sebenarnya soal ujiannya itu sendiri tidak masalah, soal ujian tersebut berupa soal kasus dan saya lebih menyenangi soal seperti itu. Berupa pemecahan kasus dan kita diperbolehkan mencari data untuk membantu memecahkan kasus tersebut. Hanya saja pada mata kuliah tersebut soal berupa kasus itu diembel-embeli tidak boleh melihat buku (rumus-rumus), dulu itu istilahnya ‘ujian tutup buku’. Pada waktu ujian saya cuma cengar-cengir saja lihat teman-teman yang berkeringat memeras otak mengingat semua rumus-rumus untuk ngitung itu bunga.

Eits.. tunggu dulu, jangan berpikir saya enak-enakan. Semalaman saya sudah pusing jungkir balik menterjemahkan rumus-rumus itu kedalam spreadsheet biar nanti saya tinggal masukan saja nilai-nilai yang diperlukan dan taadaaa… Hasil langsung keluar.

Okey, ini hanya contoh saja. Saya pribadi mempunyai prinsip buat apa saya memaksakan harus menghafal semua rumus. Misalnya harus menghafal rumus-rumus untuk menghitung gaya puntir yang terjadi akibat beban yang ada, atau saya harus menghafal 100 Inch itu sama dengan 2.7778 Yard, yang hanya dalam beberapa saat saya bisa cari rumusnya di literatur atau dapat dihitung dengan cepat menggunakan kalkulator converter.

Saya berpikir, lebih baik bagi saya kalau saya mengerti dan menguasai prinsip/konsep yang menjadikan rumus tersebut. Misalnya prinsip atau konsep kenapa berat yang diakibatkan oleh beban itu dapat menyebabkan gaya puntir, atau memahami kenapa Inch dapat berubah ke Yard. Dan yang terpenting memahami penerapannya untuk memecahkan masalah. Untuk apa, kenapa dan bagaimana, sementara rumus-rumus bisa saya cari pada literatur.

Entahlah, apa memang otak saya yang salah.

Albert Einstein pernah mengatakan sesuatu yang menurut saya agak-agak ekstrim bila hanya sekedar mengartikan perkataanya, “Never memorize what you can look up in books.”

Menurutnya, lebih baik otak ini dipakai untuk memecahkan permasalahan dan mencari solusi-solusi dibanding hanya menjadi gudang hafalan rumus-rumus dan tabel. Ya mungkin banyak orang yang berpendapat berbeda :) .

Ada satu hal lagi yang menarik. Saat kuliah dulu, pada sebuah forum diskusi tentang kegiatan belajar mengajar sempat dibahas mengenai tidak diperbolehkannya menggunakan komputer untuk pengerjaan TA (Tugas Akhir). Artinya, tidak dapat menggunakan Autocad, archicad atau aplikasi desain arsitektur apapun untuk TA, semua harus manual. Tentu saja hal ini banyak menuai protes dari teman-teman mahasiswa.

Ketua jurusan, yang waktu itu menjadi pembicara, mengatakan alasannya kenapa tidak diperbolehkan yaitu besarnya kemungkinan mahasiswa lebih mudah untuk mencontek, meniru, menjiplak bahkan meng-copy hasil karya orang lain bila menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut untuk TA. Bahkan bisa saja mahasiswa menggunakan file hasil karya orang lain untuk proyek TA-nya.

Walah, teknologi lagi (yang ini komputer + software) yang disalahkan dan dijadikan alasan. Debat punya debat, karena keterbatasan waktu diskusi akhirnya pembicaraan pun selesai dengan setumpuk kegodokan.

Di luar forum diskusi saya sempat berbincang-bincang dengan ketua jurusan dan menanyakan mengenai masalah TA tadi. Saya bilang, bila memang ada seorang mahasiswa yang sudah mempunyai niat untuk mencotek, menjiplak bahkan menggunakan hasil karya orang lain untuk TA-nya, tidak perlu menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut alias dengan manual saja semua itu kemungkinan besar bisa terjadi. Kok kenapa malah komputer/aplikasi-nya yang dipermasalahkan? Melihat dunia kerja sekarang dimana perusahaan atau konsultan-konsultan memiliki kecenderungan menggunakan komputer, bukankah sebuah nilai tambah untuk mahasiswa bila dalam pengerjaan TA, mereka juga sekaligus memperaktekan ilmu yang diajarkan saat kuliah, ilmu komputer dan aplikasi Autocad?

Lagipula dosen-dosen penguji dengan berbagai cara dapat melakukan pengecekan ‘keaslian’ dari proyek TA seseorang, misalkan dapat terlihat dari penguasaan si mahasiswa terhadap proyek tersebut sampai ke detail-detailnya atau memaksa mahasiswa mempraktekan pembuatan gambar di komputer untuk sebagian kecil gambar desain yang khas yang bisa jadi pembuktian kalau mahasiswa tersebutlah yang membuat sendiri pada komputer.

Lalu sang ketua jurusan menjawab, “Sudahlah… tidak usah dibahas, dosen-dosen, terutama dosen senior, mereka tidak menguasai komputer apalagi aplikasi Autocad.”

*GUBBRRAAAKKK….*

:ccpingsan:

SDM yang harus di-upgrade ini kok malah kemajuan teknologi yang disalahkan.

Related Articles