Sabar Dan Ikhlas
3/25/08 - 1516 days ago • Category: Life
Membaca tulisan dari LatQueire tentang ‘Ilmu Hidup’ saya jadi teringat postingan saya tentang ‘sabar dan ikhlas’ di blog saya yang hilang dulu. Membuat saya ingin menulis lagi mengenai sabar dan ikhlas di blog ini.
Sabar dan ikhlas, definisi mengenai sabar maupun ikhlas ini sebenarnya bisa kita dapatkan dari berbagai macam buku/literatur terutama yang menyangkut keyakinan beragama atau pada ceramah-ceramah keagamaan.
Apa yang terjadi saat ini adalah orang-orang sering berkata ‘bersabar lah’ saat kita mengalami kekalahan atau belum menerima sesuatu yang kita dambakan atau saat kita menunggu sesuatu. Orang-orang juga sering mengatakan ‘bersabar lah’ bila kita tertimpa musibah atau bila kita sedang dalam kesulitan atau kesedihan bahkan saat kita dalam kondisi teraniaya. Seakan-akan mengharuskan kita untuk menerima keadaan.
Btw, mungkin saya juga termasuk orang yang bingung ‘menterjemahkan’ sabar dan ikhlas ini :D
Apakah sabar itu berarti diam dan menerima?
Pada bulan Ramadhan tahun lalu saya mendengar sebuah cerita mengenai sabar.
Diceritakan pada sebuah kampung tengah berkumpul pak Haji dan beberapa warga yang sedang berbincang sambil menunggu waktu berbuka puasa dikediaman pak Haji.
Biasanya saat menjelang magrib, Fatimah, anak pak Haji selalu menyiapkan minuman entah itu air putih, teh, atau kolak dan makanan kecil untuk berbuka. Hari ini, saat waktu adzan buka puasa semakin dekat, Fatimah belum menunjukan batang hidungnya.
Bertanyalah salah satu warga, “Pak Haji, kemane si Fatime, udah mau buka belum ade aer? Biasanye udah siap buat tajil nih.”
Lalu seorang warga yang tahu menjawab, “Itu tadi anak pak Haji lagi ke warung beli kolak buat tajil.”
Lalu berkatalah warga yang bertanya tadi, “Ooo… ya sabar dah, nunggu, kan bulan puasa kudu banyak sabar.”
Mendengar perkataan warga tersebut pak Haji pun berkata, “Menunggu itu bukan ‘sabar’ namanya… Ini sudah hampir waktu berbuka, Fatimah belum juga tiba… mungkin ada kesulitan di perjalanan. Coba kamu susul dan bantu dia! itu baru ‘sabar’ namanya.”
Mendengar cerita tersebut saya pun tertegun… Apa sebenarnya sabar itu?
Yang saya pahami, sabar itu adalah tetap bertindak tetapi bertidak dengan ketenangan pikiran dan hati, tanpa rasa sedih, amarah atau nafsu. Yang salah tetap harus dibenarkan dan yang benar tetap harus dipertahankan.
Ikhlas, seperti halnya sabar, banyak sekali orang yang sedang dirundung duka karena musibah mungkin karena kehilangan sesuatu atau ditinggalkan oleh orang yang dicintai atau mengalami kondisi yang kita tidak inginkan mengucapkan kata ‘saya ikhlas dalam menerima cobaan (musibah) ini’ tetapi tetap menangis dan tetap bersedih. Satu hal yang lain, saat kita memberikan sesuatu kepada orang lain baik dalam kondisi terpaksa maupun tidak, sering kali kita mengaku kita ikhlas memberi.
Seperti apa ikhlas itu sebenarnya?
Saya tidak mempunyai cerita seperti cerita sabar diatas tadi. Beberapa buku mengenai kesuksesan hidup, pengembangan kepribadian dan sejenisnya, ada juga beberapa yang mengutarakan mengenai ‘ikhlas’ ini. Tentu dengan cara peyampaian yang berbeda.
Dari semua yang saya ketahui, saya menangkap bahwa ikhlas itu adalah sebuah perasaan ‘nyaman’ saat kita menerima atau memberi atau melakukan sesuatu. Ada kecenderungan sesuatu yang membuat hati kita ‘bahagia’.
Bila seperti itu, bagaimana dengan ikhlas menerima musibah?
Pikiranlah yang bermain dengan sudut pandang terhadap musibah tersebut. Bila hati ini masih diliputi rasa sedih terhadap musibah seakan-akan di lubuk hati yang paling dalam masih belum dapat menerimanya walau dibibir terucap kata ikhlas itu adalah palsu.
Bila dari kejadian itu semua dapat menjadikan hati kita ‘nyaman’ menerima, terhadap musibah dan tentu saja terhadap hikmah yang ada, saya berfikir itulah sebuah keikhlasan. Perasaan menerima dan memberi yang tulus, yang bahkan dapat membuat kita tersenyum saat mengingatnya.
Sulit?
Saya sendiri tidak pernah menganggap itu hal yang mudah.
Btw, saat kita berniat untuk shalat atau beribadahpun kurang lebih selalu dimulai dengan kalimat “Saya niat dengan ikhlas….” bukan? :)



ulasannya panjang banget, tp saya dengan sabar ngelanjutin ngebacanya,meskipun koneksi internetnya juga rada2 lemod gini..!!sabar…sabar… :-? :((
ady gondronk’s last blog post..Menikah Bertiga di Jaman Modern
sabar sih selama ini saya artikan tetep berfikiran positif bahwa hal baik akan segera datang sebagai sebuah jawaban/resolusi atas hal negatif yg kita alami apakah itu musibah etc. letakkan hal negatif itu diluar ‘sistem’ kita sehingga judgement normal kita ga ikut terpengaruh.
ikhlas sih mentahnya mungkin let it go aja ya. juga tanpa pamrih
devari’s last blog post..What a Day with QuickerTek Product
sabar dan ikhlas yang pastinya harus saling mendukung. Ada banyak arti sabar dan ikhlas berdasarkan sudut pandang yang berbeda :)
intinya “Inna solati wanusuki wamahyaya wammamati
lillahi rabbil’alamin” yang selalu kita ucapkan ketika sholat :cool:
Febra’s last blog post..Selingan Di Waktu Liburan
ya..seperti judulnya, okta cuma bisa bilang..sabar ya :)
Okta Sihotang’s last blog post..Pertempuran operator VS operator
ada sabar, bersyukur dan ikhlas… ilmu hidup yang sulit di jalani… ke 3 nya juka telah mencapai ujiannya… subhanallah.. air mata saja yang bisa menemani..
thanks atas sharingnya
gimana juga hidup tetap harus dijalan tapi sambil sabar dan iklas ada nilai tambahnya.