Ah, kontroversi surat itu masih terasa sampai saat ini. Kebenaran sejarah pun masih menjadi misteri seperti film-film yang memiliki ending menggantung. Apa akan ada kelanjutannya sementara para pemerannya satu persatu mulai menghilang?

Aktor utama pun sudah tiada. Apa akan ada orang yang berani angkat bicara?

Sang ‘pakar‘ kita, tahun yang lalu mengaku menemukan sebuah film yang menayangkan naskah Supersemar versi yang lain dari versi yang selama ini dikenal masyarakat. Bukti ini dia sebut sebagai Superbagong. Tapi bagaimana kelanjuatannya sang bangong super tersebut?
*gak fokus™*

Apakah Supersemar ini terlalu berbahaya untuk diungkap sehingga para saksi atau yang mengetahui fakta sejarah tersebut memilih untuk bungkam?

Mungkin bila Supersemar ini terungkap, akan banyak hal-hal lain yang akan turut terbongkar. Soekarno – PKI – Dewan Jendral – Soeharto… Apa sebenarnya yang terjadi?

Beberapa hari kebelakang saya sempat berbicang santai dengan ayah saya membicarakan Supersemar dan sepak terjang Soeharto. Ah, karena saya tadi sedang jenuh dan tiba-tiba kembali semangat setelah memulai menulis tulisan ini, saya akan membuat sebuah cerita pendek tentang sepak terjang Soeharto ini, hasil dari nguping dan mencontek dari sana-sini.

Jadi jangan pernah dijadikan referensi dan anggap saja ini sebuah cerita fiksi ala hollywood bollywood yang terinspirasi dari sepak terjang Soeharto serta kontroversi Supersemar dan sedikit terilhami oleh tokoh Superbagong.
*masih gak fokus™*

Berikut adalah cerita fiksi perjalanan Soeharto versi ngarang ala si gue:

Supersemar, ini merupakan langkah akhir dari strategi Soeharto dalam rangka pengambilalihan kekuasaan di negeri ini dari tangan Soekarno. Batu loncatan yang dipakai oleh Soeharto adalah peristiwa Gerakan 30 September oleh PKI.

Sejenak kita flash back ke beberapa masa sebelum Soeharto bertugas di Jakarta. Pada tahun 1956, Soeharto menjabat sebagai Perwira Menengah yang diperbantukan Kepala Staf untuk mengikuti Planning SUAD sebelum ditunjuk sebagai Kepala Staf Teritorial IV, Semarang, pada tahun yang sama, dan menjadi Panglima Teritorial IV 1956-1959 merangkap Dewan Kurator Akademi Militer Nasional.

Saat di Semarang ini lah Soeharto telah mempunyai hubungan yang cukup erat dengan orang-orang yang pada jaman orde baru menjadi konglomerat atau yang kita juluki sebagai kroni-kroni Soeharto. Dengan jabatannya waktu itu, Soeharto membackup usaha-usaha para calon konglomerat tersebut, bahkan sampai adanya isu bahwa Soeharto turut terlibat beberapa kasus penyelundupan, salah satunya adalah bahan pangan.

Sepak terjang Soeharto saat itu diketahui oleh pejabat-pejapat tinggi Angkatan Darat. Salah satunya yang bertugas di pusat adalah Nasution. Waktu itu Nasution berencana melakukan pemecatat dari kesatuan terhadap Soeharto, tetapi Gatot Subroto membela Soeharto agar tidak dikeluarkan dari kesatuan. Perjalanan militer Soeharto pun akhirnya membawa dia menjadi Panglima Kostrad di Jakarta.

Related Articles