Minggu ini sebenarnya adalah saat-saat ‘menghitung hari’ setelah saya memutuskan untuk resign dari penjara perusahaan tempat saya bekerja ini.
Tetapi, ada kejadian cukup seru dalam waktu penantian ini. Demo Buruh!
Tenang, ini bukan dan tidak terjadi di tempat saya bekerja, tetapi di pabrik sebelah, pabrik lain yang masih satu group (satu kepemilikan) dengan perusahaan tempat saya bekerja.
Berita terkait: Ratusan Buruh PT Anggun Demo ke Disnakertrans
Ya inilah buah dari hasil keputus-keputusan yang salah dalam membuat aturan dan me-manage para karyawan.
Hehehehe, saya cuma bisa bilang ‘makanya dengerin dong kalau saya kasih saran, usul dan solusi’ :D
Sebenarnya panjang ceritanya bila harus dijelaskan satu pers atu tapi ada beberapa poin yang ingin saya bagi atas kejadian di pabrik tersebut sebelah, yaitu:
- Ada kesalahan tuntutan yang diarahkan, yaitu untuk menurukan Manager. Ini salah alamat. Karena setahu saya beliau (manager di pabrik sebelah) bukanlah orang yang membuat dan mensahkan keputusan-keputusan yang dikeluarkan perusahaan. Dan sebenarnya banyak usulan-usulan dan rencana yang benar dan sangat bagus yang beliau utarakan tetapi itu semua dimatikan dengan pikiran-pikiran konvensional para pemimpin/pemilik perusahaan yang selalu mempertimbangkan keuntungan (tapi dalam cara yang salah) dan dengan dalih mereka sudah lebih pengalaman atau dengan alasan bahwa di negaranya atau dipabrik lain juga sama.
- Peraturan itu bukan untuk dilanggar tetapi untuk ditaati (dengan sedikit mensiasati hehehehe). Apapun yang kita lakukan jangan pernah sampai berbenturan dengan Undang-Undang ataupun Peraturan.
- Buruh juga manusia. Khususnya di lingkungan saya bekerja ini, permintaan mereka sangat sederhana, yaitu upah yang pantas atas jerih payah mereka. Itu adalah petunjuk yang sangat penting.
- Hati-hati terhadap kepemimpinan atau managemen ala Sweatshop. Jujur saja, saya membaca adanya indikasi investor asing akan kembali mengarahkan industri garmen di Indonesia ke arah sana dimana dulu Sweatshop ini mereka jalankan di negaranya. Yup, perbudakan gaya baru dimana peraturan perusahaan yang nyeleneh (pelanggaran-pelanggaran peraturan pemerintah dan undang-undang) dan peraturan-peraturan tidak tertulis dalam pelaksanaan produksi yang menindas menjadi alatnya.
- Serikat buruh. Usahakan karyawan tidak terkontaminasi oleh serikat buruh. Solusi terbaik yaitu menjalankan LKS Bipartiet yang disarankan pemerintah (Disnakertrans), intinya forum komunikasi antara pekerja dan perusahaan tanpa campurtangan pihak lain dan tetap terawasi oleh Disnakertrans.
- Terakhir, sebenarnya kasus yang terjadi itu bermuara pada satu orang. Tapi saya tidak akan membuka itu disini. Intinya yang pertama adalah jangan menjadi orang yang narrow minded dan selalu berpikir negatif dahulu akan sesuatu hal (baca: sesuatu yang tidak sesuai dengan keiinginan). Kedua, efisiensi atau penghematan dan juga profit tentu menjadi bagian yang harus dicapai tetapi bukan dalam artian menghalalkan segala cara sampai-sampai manusia itu dianggap tidak bernilai. Dan ketiga, ada sebuah sifat manusia kalimat“your mouth is faster than your brain”, ini sangat berbahaya dalam managemen apalagi bila anda sebagai seorang pemimpin.

Apr 26, 2008 @ 20:49:23
sakti ikut demo juga ya?
no. 6. sebaiknya buka aja disini sekalian ;)
Apr 28, 2008 @ 20:03:18
saya setuju dengan kalimat terakhir :D, mulutmu adalah musuhmu… hati2lah berbicara, berpikir dulu sebelum menyesal nantinya…
ghozans last blog post..A Day At The Hospital
Apr 28, 2008 @ 22:38:05
selalu di rayakan dengan DEMO… jadi tren, bukan tren sesaat lagi
Apr 29, 2008 @ 09:15:04
@devari: hehehe.. gak ikut kok.. jadi pengamat ajah. no 6? jangan deh :D
@ghozan: masih banyak orang yang mengandalkan ngomong dulu mikir belakangan :D
@Raffael: tul… sekarang apa-apa demo… kadang bingung juga yah…
Apr 29, 2008 @ 11:26:49
setuju ama point #3, soalnya kadang2 buruh (malah staff/karyawan) pun seperti tidak dianggap manusia..bisanya cuma diperaaasss terus tenaga dan otaknya… huhuhu
tcs last blog post..Perang Tarif = Perang Batin
Apr 29, 2008 @ 13:09:18
@tc: :) saya juga pernah ngalamin kerja di perusahaan asing yang kayaknya itu orang/karyawan itu gak boleh sakit tapi kalo mati boleh.. :D hehehehehe..
Apr 30, 2008 @ 15:17:57
hmm.. intinya semua karyawan hanya bisa menjjadi penonton yang mampu berseru kenapa si perusahaan gak begini kenapa gak begitu..
dan perusahaaan yang bersangkutan tidak mampu mengerti apa yang diinginkan.. jadilah.. ada DEMO…
Apr 30, 2008 @ 16:51:52
@yanti: sebenernya initinya sih komunikasi. Sering komunikasi buruh dengan pimpinan/pihak perusahaan/manajemen itu tidak baik.
Feb 03, 2009 @ 14:41:39
Jangan terlalu menyalahkan pihak manajemen…
Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan yang sedang dalam kesulitan (PT. XYZ), dan dalam kondisi seperti ini pihak pengusaha mungkin saja menjalankan praktek yang menyimpang dari UU Ketenagakerjaan. Namun apabila ada komunikasi yang baik dan saling pengertian melalui forum BIPARTIT yakinlah perusahaan akan tetap berjalan dan buruh masih bekerja dan punya penghasilan. Karena nasib perusahaan sebenarnya hanya ditentukan oleh dua pihak, yaitu buruh dan pengusaha.
BENAR seperti pendapat sdr Sakti, intinya adalah KOMUNIKASI…