Semenjak kenaikan BBM, beberapa kelompok mahasiswa rajin melakukan demo protes kenaikan harga BBM. Dan sepertinya seringkali berakhir ricuh. Kemarin di TV saya juga melihat sampai ada mobil yang menjadi korban dibakar, yang katanya pelampiasan ‘kekesalan’ mereka.

Hmmm… mahasiswa, yang katanya kaum intelek, terpelajar, tapi kok tidak mencerminkan yah… Terlihat bahagia bisa kejar-kejaran dan dapat memukul juga menendang aparat. Melempar batu atau apapun, yang mungkin bisa jadi calon cabang olah raga baru nanti. Lalu, hobi merusak pagar atau fasilitas umum yang tentu saja mereka tidak merasa rugi karena merasa tidak memiliki barang-barang yang mereka rusak itu. Termasuk merusak reputasi mereka sendiri sebagai orang cendikia. Ah pokoknya overacting!

Apakah sekarang ini generasi muda Indonesia seperti itu yah? Terkesan kekerasan identik dengan pergaulan dan keseharian para generasi muda. Belum lagi cerita ‘ritual’ kekerasan di beberapa institusi pendidikan (ospek bin pemeloncoan? warisan penjajahan itu sih :D) dan musim siksa-siksaan sebagai syarat masuk kelompok tertentu (baca: geng).

Apa bisa generasi muda tampil di depan memajukan bangsa ini? Apa layak genarasi seperti itu untuk tampil memimpin bangsa yang katanya sekarang ini sedang mencoba mendobrak agar para pemimpin senior yang sudah lama memimpin itu agar ber-regenerasi?

Related Articles